Home > Arema, Aremania, Nasional > Sejarah PSSI (Bagian 2): Kami Indonesier, Bukan Inlander!

Sejarah PSSI (Bagian 2): Kami Indonesier, Bukan Inlander!

Jakarta – Kegagalan Indonesische Voetbal Bond (IVB) untuk mempersatukan sepakbola menjadi problem yang mesti segera dievaluasi. Jika segera tak teratasi, maka agenda menyamakan gendang tarian antara sepakbola dengan perlawanan di dunia pergerakan bisa makin terhambat.

“Al te goed is buurmans gek –terlalu baik beda-beda tipis dengan bodoh,” sebuah pepatah Belanda yang sering ditujukan kepada IVB untuk menggambarkan sikap terlalu baik, lembek dan senang berkompromi kepada Belanda.

Akhirnya setelah tiga tahun berdiri, organisasi yang didirikan tahun 1927 di Surabaya dicap gagal. Karena itu di awal bulan Maret 1930, beberapa tokoh sepakbola Yogyakarta, salah satu di antaranya de ingenieur [sang insinyur] Soeratin Sosrosoegondo bertolak ke Jakarta guna menemui pengurus VoetbalIndonesische Jacatra (VIJ) dan beberapa tokoh sepakbola lainnya.

Dalam pertemuan di Hotel Binnenhof Jalan Kramat no.17, semua orang yang hadir sepakat bahwa dalam waktu dekat akan segera dibentuk organisasi sepakbola bumiputera yang kepengelolaanya bakal lebih serius dan profesional.

Hinaan Inlanders Melecut Pembentukan PSSI

Sementara di bulan yang sama, PSM Yogyakarta berencana mengadakan turnamen amal Voetbalwedstrijden yang rencananya diikuti beberapa bond-bond dari luar kota. Sayangnya rencana ini gagal karena tim luar kota enggan datang ke Yogya. Tetapi mereka menyarankan agar pengurus PSM menyurati pihak Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) –PSSI nya Hindia Belanda– agar memberi izin bond-bond yang berada di bawah naungan mereka turut serta dalam turnamen amal ini.

Tapi apa lacur, bukan izin yang didapat. Malah hinaan menyakitkanlah dirasakan para pengurus PSM. “Tidak bisa! Anggota NIVB dilarang bermain dengan perkumpulan sepakbola inlander yang belum teratur baik!” tegas surat balasan NIVB.

Superioritas macam ini beberapa waktu terakhir juga kita dengar. Saat Persebaya hendak mengundang Persib, Gresik United dan Persepam dalam ajang Piala Pahlawan, La Nyalla Mattaliti selaku Ketum KPSI tidak mengizinkannya. Konteks persoalan berbeda, tapi polanya memiliki benang merah.

Panitia menempuh jalan lain. Dihubungilah kapten kesebelasan militer di Ambarawa. Dan ternyata mereka sanggup. Pada hari pertandingan, NIVB kembali datang mengacau berusaha membubarkan dan melarang kesebelasan militer ikut bertanding. Beruntung, sang Kapten mengacuhkan larangan itu hingga pertandingan usai.

Masih berbekas luka hinaan sebutan inlanders yang dilontarkan NIVB Inlanders adalah kosakata bahasa Belanda untuk menyebut masyarakat pribumi tanah jajahan yang mereka kuasai. Itu panggilan peyoratif, malah dalam konteks tertentu bisa dibilang hinaan yang sarkas.

Hinaan NIVB disikapi secara serius. Tokoh-tokoh sepakbola di Yogyakarta mendorong agar wakil-wakil bond pribumi di seluruh Indonesia untuk segera merapatkan barisan menantang hegemoni NIVB yang kian hari kian keterlaluan. Akhirnya, pada tanggal 10-11 April 1933 di Gedung Hande Proyo dibentuklah panitia persiapan pembentukan organisasi yang diketuai HA Hamid dan sekretaris Ir. Soeratin serta anggota H.Anwar Noto dan M Daslam Hadiwasito.

Keputusan rapat itu menghasilkan empat hal yang mesti dikerjakan dalam tempo waktu yang singkat: membentuk panitia konferensi, menyelenggarakan konfrensi untuk membentuk suatu badan organisasi bond-bond Indonesia untuk menyaingi keberadaan NIVB, dan menyiapkan konferensi tanggal 19 April 1930 di Gedung Sositet Hande Priyo Yogyakarta dan mengundang semua bond-bond yang ada di pulau Jawa untuk datang.

Peranan pers pribumi dalam menyebarkan informasi ini sangatlah besar. Surat kabar Bintang Timur, Bintang Mataram dan Sediotomo, tak henti-hentinya mengiklankan ajakan agar bond-bond pribumi di dalam atau luar pulau jawa untuk turut serta mengirimkan utusannya saat konferensi.

Soeratin cs pun tak henti-hentinya mengirimkan surat kepada seluruh bond pribumi agar ambil bagian dalam tahap awal perjuangan nasional melalui sepakbola. Sayang, selain tekanan pemerintah kolonial terhadap kaum pergerakan yang begitu ketat, ditambah kendala ongkos perjalanan yang berat, menjadikan beberapa bond urung untuk datang ke Yogyakarta.

Salah satu peserta konferensi, Indonesische Voetbal Bond Magelang (IVBM), bahkan harus meminjam dana kas organisasi Indonesia Muda agar bisa mengirimkan utusannya EE Mangindaan, seorang pelajar yang membolos dari sekolahnya, agar bisa berangkat ke Yogya.

Tercatat hanya 7 Bond pribumi yang menyatakan akan hadir di antaranya adalah, Voetbal Indonesische Jacatra (VIJ), Bandoeng Voetbal Indonesische Bond (BIVB), Madioenshe Voetbal Bond (MVB), Soerabaja Voetbal Indonesische Bond (SIVB), Indonesische Voetbal Bond Magelang (IVBM), Persis Solo dan sang tuan rumah PSM Mataram.

PSSI pun Lahir…

Malam minggu semakin larut, beberapa rumah sudah mematikan lampu penerangannya. Di luar, kondisi amat hening. Di balik suasana itu, beberapa pemuda dari berbagai kota sedang berkumpul di Gedung Sosietet Hande Priyo Yogyakarta. Mereka menutup rapat semua, jendela dan pintu agar diskusi di dalam ruangan tak terdengar sampai luar.

Tepat jam 21.00, konferensi pembentukan PSSI pun dibuka oleh M. Daslam Hadiwasito. Dengan tegas ia memaparkan dikumpulkannya semua bond pribumi di malam itu untuk satu tujuan yaitu mendirikan organisasi sepakbola untuk menanungi bond-bond bumiputera.

“Saya merasa bangga, karena keinginan kami mendapatkan simpati yang besar dari banyak pihak, hal ini menjadi pertanda bahwa sudah saatnya kita memiliki memiliki badan persatuan sendiri karena olahraga adalah salah satu hal untuk mendapatkan kemulian sebaga bangsa,” tegasnya.

Wakil Jakarta dan Bandung setuju dengan usulan ini, sepakat bahwa dunia olahraga bangsa Indonesia sangatlah terbelakang dibandingkan bangsa lain. Wakil Jakarta, sangat setuju jika pembentukan dilakukan di Yogyakarta karena letaknya di tengah pulau jawa. Jika organisasi dibentuk di Jakarta atau Surabaya, maka ongkosnya tentu akan lebih berat lagi, terlebih konsekuensi besar akan didapat jika Belanda tahu bahwa di dua kota besar tersebut didirikan organisasi sepakbola pribumi. Karenanya semua peserta konferensi akhirnya malah mendesak agar persatuan organisasi sepakbola kaum bumiptera itu harus dibentuk malam itu juga.

Namun, terjadi sedikit perdebatan yang cukup alot. Wakil dari Solo mempertanyakan status keberadaan IVB Ketua konferensi, Abdul Hamid, setuju agar IVB dihidupkan kembali dan direformasi total, tetapi perwakilan dari PSM Mataram Amir Notopratomo enggan organisasi baru ini berafiliasi dengan IVB.

Ia beralasan bahwa hadirnya perwakilan I.V.B di Konferensi yaitu Soebroto menjadi jawaban bahwa IVB sendiri mendukung penuh apa pun keputusan yang akan diambil konferensi. Apa yang diucapkan Hamid memang diamini oleh Soebroto sendiri.

Akhirnya setelah didiskusikan keluarlah keputusan bahwa IVB secara resmi dibubarkan. Untuk meneruskan estafet perjuangan dibentuklah organisasi baru yang bernama Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia (PSSI).

Penamaan PSSI sendiri berlangsung alot. Sebelumnya ada 3 nama yang diajukan yaitu Indonesische National Voetbal Bond (INVB), Persatuan Voetbal Bond Indonesia (PVBI) dan Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia (PSSI). Setelah diadakan voting maka keluarlah nama PSSI dengan Ir Soeratin dan Abdul Hamid didapuk sebagai Ketua dan Wakil Ketua.

Berdamai Atau Terus Melawan?

Usai membentuk kepengurusan organisasi, rapat kemudian dilanjutkan membahas pertimbangan sikap PSSI terhadap NIVB yang selama ini sering menjahili bond-bond bumiputera. Secara bergantian wakil dari Bandung, Jakarta dan Yogyakarta mengaduk sikap-sikap NIVB yang terkadang amat keterlaluan melarang para pemainnya untuk bergabung dengan bond bumiputera. Mereka sepakat untuk menolak berdamai dengan NIVB dan genderang perang akan terus ditabuh.

Berbeda dengan yang lainnya, wakil Surabaya malah menganjurkan PSSI untuk berdamai dengan NIVB Hubungan SVIB dan SVB sangatlah harmonis, kedua tim terkadang selalu berkolaborasi mengadakan pertandingan persahabatan. Sikap Bandung dan Jakarta yang bermusuhan dengan NIVB menurut wakil Surabaya melanggara sportifitas olahraga. Karenanya ia meminta kepada PSSI agar menjalin hubungan yang baik dengan NIVB.

Usulan Surabaya ini ditolak semua pihak, mereka enggan untuk mengiba-ngiba dan meminta kepada Belanda agar organisasinya diakui. Tepat jam 01.30 malam, dalam heningnya dini hari, terdengar sayup-sayup teriakan “Hidup PSSI!” sebanyak tiga kali.

sumber : detik.com

Categories: Arema, Aremania, Nasional
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: