Home > Aremania > Modal Seorang Pemimpin

Modal Seorang Pemimpin

Seorang tatkala sedang menjadi pemimpin menginginkan agar kepemimpinannya berhasil. Namun ternyata tidak semua pemimpin berhasil meraihnya. Ada saja pemimpin yang gagal, walaupun  yang bersangkutan tidak menghendakinya. Seorang pemimpin dikatakan berhasil, manakala semua atau sebagian besar yang dipimpin merasa senang atas kemajuan yang diraih secara bersama-sama.

Sedikitnya ada empat modal yang harus dimiliki hingga seorang pemimpin  berhasil atas kepemimpinannya. Pertama, seorang pemimpin harus benar dan dipercaya oleh mereka yang dipimpinnya. Kepercayaan itu timbul karena ketulusan seorang pemimpin, bukan kepercayaan yang timbul karena paerasaan segan ataupun tidak enak hati. Seorang pemimpin akan diikuti bukan hanya karena kata-kata yang diucapkannya, melainkan adanya kesesuaian antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukannya, apabila ucapan dan sepak terjangnya sudah tidak layak untuk di ikuti maka pemimpin tersebut harus berbesar hati untuk memberikan kepada orang lain yang lebih cocok. Karena seorang pemimpin bukan hanya sekedar simbol dari suatu organisasi atau komunitas tersebut.

Semakin dipercaya, seorang pimpinan akan semakin mudah menjalankan tugas-tugas kepemimpinannya. Berbekal kepercayaan itu akan lahir loyalitas dan kerelaan semua pihak untuk menjalankan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing. Seringkali orang mengira bahwa loyalitas akan tumbuh manakala imbalan yang diterimanya mencukupi. Pada kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak orang mau bekerja jika yang diikuti menunjukkan ketulusan, diberlakukan secara adil, dan apa yang dikerjakan mendapatkan apresiasi dari orang lain. 

Tidak sedikit orang yang mendapatkan imbalan cukup, dan bahkan berlebih, akan tetapi tetap saja tidak memiliki etos kerja yang memadai. Bahkan, mereka bekerja hanya tatkala diberi imbalan tambahan, atau insentif. Jika tidak,  maka mereka juga tidak bekerja maksimal. Pemimpin yang tulus akan diikuti oleh para bawahannya melebihi pemimpin yang hanya sanggup memberi sesuatu berupa material.  

 Kedua, adalah memiliki kemampuan merumuskan dan sekaligus menjelaskan tentang gambaran ideal   yang akan diraih bersama. Gambaran itu adalah terkait dengan hal-hal yang bersifat ideal, mulia, dan memberi manfaat bagi banyak orang. Tujuan jangka pendek dan hanya menguntungkan sebagian dari semua yang dipimpin,  tidak akan melahirkan semangat, kerja keras, dan kebersamaan.  

Dalam managemen modern, rumusan itu disebut  visi dan misi. Seorang pemimpin harus memiliki visi yang jelas yang ingin diwujudkan. Rumusan visi yang  jelas  akan menjadi kekuatan untuk mempersatukan dan sekaligus menggerakkan semua pihak yang dipimpinnya. Namun ternyata tidak semua pemimpin berhasil merumuskan visi itu. Ia hanya bercita-cita duduk di kursi pimpinan, akan tetapi tidak tahu apa yang akan diperbuatnya. Orang seperti itu adalah pemimpin  yang tidak memiliki visi ke depan.  

Ketiga,  adalah semangat atau etos yang kuat. Pemimpin harus memiliki semangat yang kuat untuk meraih keberhasilan. Semangat itu harus dibagi-bagi kepada semua pihak yang dipimpinnya. Oleh karena itu, pemimpin harus pandai berkomunikasi untuk membakar semangat bagi semua yang dipimpin. Semangat seorang pemimpin akan melahirkan etos, kepercayaan, dan loyalitas.  Jika iklim seperti itu sudah terbentuk, maka institusi yang dipimpin akan semakin kokoh, dinamis dan berkembang.  

 Keempat, kesediaan berkorban. Tidak pernah ada pemimpin sukses tanpa ada kesediaan berkorban. Pemimpin harus mau berkorban.  Keberhasilan seorang pemimpin bukan diukur dari pertambahan gaji atau kekayaannya, melainkan bukti adanya kesanggupan dalam melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Perubahan positif itulah yang dijadikan ukuran keberhasilan seorang pemimpin.

Keberhasilan pemimpin  organisasi atau komunitas tidak  sama dengan keberhasilan pedagang. Pedagang sukses manakala hartanya bertambah. Sedangkan  pemimpin yang berhasil tidak selalu demikian, bahkan bisa jadi justru sebaliknya. Hartanya menjadi habis untuk membiayai tugas-tugas kepemimpinannya. Oleh karena itu pemimpin harus bisa menutupi segala kekurangan tanpa harus mengeluh ataupun mengharapkan sokongan dari anggotanya, karena kesuksesannya itu  harus dibayar dengan  berkorban. Sangat Jarang memang orang yang bisa seperti itu.

Masih banyak modal lainnya yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin sukses yang belum disebutkan dalam tulisan ini. Tetapi setidaknya empat hal tersebut harus dimiliki. Pemimpin yang tidak memiliki modal  tersebut, maka kepemimpinannya tidak akan berhasil. Pemimpin tidak cukup hanya berbekalkan uang, dukungan publik, dan atau semangat menjadi pemimpin.  

Pemimpin yang hanya bermodalkan semangat, tanpa bermodal kepercayaan dari banyak pihak, visi dan misi  yang jelas,  dan kemauan berkorban hanya akan menghasilkan kekecewaan yang berkepanjangan. Akhirnya, tatkala orang berkeinginan menjadi pemimpin, maka harus pandai membaca dirinya sendiri, apakah bekal-bekal dimaksud sudah ada padanya. Keinginan memang perlu dimiliki, tetapi modal lainnya sebagaimana disebutkan di muka,  perlu dilihat kembali dan  dipertimbangkan oleh yang bersangkutan.

Salam Satu Jiwa
A    R    E    M    A

Categories: Aremania
  1. February 14, 2012 at 7:06 pm

    kalau mau menjadi figur pemimpin yang baik, kita tidak usah repot2 untuk mencari figur yang cocok. Kita sudah mempunyai sosok seorang pemimpin yang bisa sekali untuk kita contoh. beliau tidak kaya, tidak berpendidikan, tidak ada background klg terpandang dll. Akan tetapi beliau sudah bisa memimpin suatu kaum dari kondisi yang sangat terpuruk menjadi suatu kaum yang sangat terpandang. Beliau ini akhirnya menjadi legenda sebagai seorang pemimpin yang sangat patut kita contoh. Siapa beliau? Beliau adalah junjungan kita, nabi besar Muhammad saw. Kita kalu mau menjadi pemimpin yang baik, contohlah beliau.
    Akan tetapi jangan skeptis dan menganggap bahwa kita kan bukan nabi, maka kita tidakn bisa seperti beliau.
    Sebenarnya kita ini sama dengan kanjeng nabi, sama2 manusia, sama2 makan nasi, bahkan sama2 akan mati juga, maka jadikan hal itu sebagai pelecut bahwa kita harus bisa mencontoh beliau.
    untuk bisa tahu cara kepemimpinan kanjeng nabi, maka pelajarilah segala apa yang ada dalam sejarah kehidupan nabi. That’s it!
    Salam satoe jiwa

    • February 15, 2012 at 10:00 am

      Tapi pemimpin juga harus bisa melihat kemampuan teman2 sekitarnya, bila ada yang lebih baik dan bisa sebuah kelompok tersebut menjadi maju, maka pemimpin tersebut harus dengan legowo untuk menyerahkan kepada mereka yang lebih layak. Walaupun cuma sementara, tapi bilamana keadaan menjadi lebih baik bukan tidak mungkin pergantian tersebut bisa menjadi acuan untuk menjadi pengganti yang permanen.
      Memang betul sebagai pemimpin harus nya belajar dari pengalaman2 pemimpin2 jaman dahulu, kalau kita yang muslim bisa mencontoh sikap kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Walaupun akan sangat sulit, setidaknya kita bisa mengambil sedikit contoh kepemimpinannya.
      sasaji

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: