Home > Arema > Arema dari tahun ke tahun di Liga Indonesia

Arema dari tahun ke tahun di Liga Indonesia

Cuplikan Prestasi AREMA dari tahun ke tahun di Liga Indonesia

Ligina/Liga Dunhill Indonesia I 1994/95
Ligina I merupakan kompetisi hasil peleburan antara Perserikatan dan Galatama. Arema di Ligina I gagal masuk ke babak 8 besar , Arema yang berada di grup timur hanya mampu finish urutan 6. Di LDI I ini arema dilatih oleh Halilintar Gunawan. Ada beberapa pemain baru dan debutan di Ligina seperti Ahmad Yono dan Rudi Haryantoko

Indonesia 1995/96

Liga Dunhill Indonesia II Kali ini kontestannya tereduksi menjadi 32 tim sebelum menjadi 31 tim setelah Persiku mengundurkan diri. Karena sponsor Persiku dan Sponsor utama Ligina berbenturan (Persiku Djarum Super sedangkan Ligina Dunhill). Enam tim teratas dari masing-masing wilayah berhak melaju ke babak 12 besar, Pemain asing 3-3 (ketiga-tiganya boleh turun semua). Karena Pada waktu itu liga beum selesai sedangkan AFC men-diedline PSSI agar mendaftarkan klub untuk berpatisipasi di Piala Champions dan Winners. Maka ditunjuklah PSM sebagai juara Wiltim untuk berlaga di Piala Champions, dan Mastrans Bandung Raya sebagai juara wilbar menjadi wakil yang berlaga di Piala Winners.

Arema di musim tersebut kesulitan dana beruntung pemilik Gelora Dewata HM Mislan menjadi penyandang dana sekaligus menjadi ketua yayasan. Kemudian putra dari HM Mislan Vigit Waluyo juga masuk ke jajaran manajemen Arema. Dari skuad pemain kebanyakan Arema masih dihuni muka-muka lama seperti Singgih, Aji, Agus Yuwono, Maryanto, serta Ahmad Yono kiper yang bergabung di Ligina I.

Adapun pemain baru yang memperkuat Arema seperti Totok Anjik ex defender Persebaya, Dery Krisyanto ex bek kiri Petrokimia Putra, Bambang HS kiper ex Persebaya dan striker asing ex Persija dari Brazil Marcello, serta dua pemain dari Australia Michael Mc Bride, dan Alex Stiokos dan Dony suherman dari Persema serta

Tim Arema sendiri yang ketika itu kembali di tangani oleh Gusnul Yakin dan tergabung di wilayah timur hanya mampu sampai urutan ke-12 dari 16 tim.

Liga Kansas Indonesia III 1996/97

Di ligina III Liga berganti disponsori oleh produsen rokok Kansas. Format kompetisi yang digunakan memakai 3 wilayah, masing-masing wilayah terdiri dari 11 tim. Dimana 4 tim teratas dari tiap wilayah berhak lolos ke babak 12 besar. Juara wilayah berhak menjadi tuan rumah 12 besar. Pemain asing 3 dimiliki-3 boleh dimainkan.

Arema yang saat itu ditangani oleh suharno mantan pelatih Gelora Dewata masuk ke babak 12 besar, setelah di babak penyisihan berada di peringkat 3 wilayah barat. Pada saat itu Arema sudah gak diperkuat oleh Singgih P, Maryanto yang bermain untuk Persema, Kuncoro yang bermain untuk Mitra Surabaya, dan Aji Santoso yang di transfer oleh Persebaya dengan 50 juta, plus kontrak 50 juta sekaligus sebagai pemain termahal.

Namun ada muka-muka baru yang bergabung seperti Charis Yulianto yang baru saja selesai mengikuti kompetisi Baretti di Italia bersama PSSI Jr U-18, lalu Pujo Sumedi, Yunus Mochtar, dan trio asing asal Chile Juan Rubio, Nelson Leon Sanches (keduanya dari Presma Manado) dan JC Moreno. Di tahun inilah fasilitas Gajayana bertambah, yaitu penambahan lampu Stadion untuk bermain malam hari. Sebelumnya digunakan Persema Jr untuk babak final Piala Soeratin U-18.

Liga Indonesia IV 1997/98

Di ligina IV Arema mendapatkan pengurus- pengurus baru seperti Tinton Suprpto sebagai ketua Yayasan dan Kristia Yudha mantan manager Kaki Mas Dampit sebagai wakil manager. Arema di waktu di tinggal strikernya Joko “Gethuk” Susilo ke Persija. Tapi Arema masih di perkuat Dwi “kirun” Sasmianto yang bergabung semenjak ligina II, Rudi Haryantoko,Jonathan, kemudian masuk pemain baru seperti Redi Suprianto, Didit Thomas, Sunardi C, Ajid. Arema saat itu dilatih kembali dilatih Gusnul Yakin.
Di Ligina IV itu kompetisi tanpa sponsor. Bandung Raya mengundurkan diri karena mengalami kesulitan masalah pendanaan, dan akhirnya pada 25 mei 1998 kompetisi di hentikan karena adanya krisis keamanan dan krisis ekonomi.

Indonesia 1998/99
LIGINA V 1998/99 masih tanpa sponsor dengan menggunakan 5 grup dari 28 kontestan. Dua tim teratas dari masing-masing grup berhak masuk ke- 10 besar. Partai Final dipindahkan di Manado karena alasan keamanan Nilai terbaik dari 5 tim berposisi juru kunci lolos dari babak play off degradasi, empat tim lainnya harus saling berhadapan di babak play off untuk menentukan dua tim yang terdegradasi

PSB Bogor, dan Mitra Surabaya mengundurkan diri karena terkendala masalah internal Arema sendiri di Ligina V finish diurutan 3 dari 6 tim yang berada di Wilayah tengah grup C. Arema pada saat itu di kelola oleh trio pengurus muda seperti Iwan Budianto sebagai Manajer, Kristia yudha sebagai wakil manajer, dan Lucky AZ sebagai sekretaris. untuk pelatihnya Arema menunjuk duet Hamid Asnan dan winarto, kemudian Hamid Asnan mundur dengan alasan yang kurang jelas, berselang beberapa tahun kemudian Hamid Asnan meninggal dunia.

Di Ligina V muncul pemain-pemain baru seperti Gatot Ismawan (PSIM), Sunardi C (Mitra Surabaya),Yuli Budiarso (ASGS), M Iksan (Persekam), Hendrik Kotto (Persekam), Miftakul Huda (PS Djagung/Persema Jr) dan pemain belakang dari Chile Christian Cespedes. Pada laga home lawan Persikab Kab Bandung. Arema menang W/O karena Persikab tidak berani datang ke stadion, sehari sebelumnya tim Persikab mendapatkan teror di Hotel. Ini adalah aksi balas dendam Aremania terhadap Persikab ketika bermain di Stadion sangkuriang, Cimahi.

Indonesia 1999/2000

Kompetisi Ligina VI 1999/00 di sponsori oleh Bank Mandiri. Sistem kompetisi kembali memakai format 2 wilayah masing-masing wilayah terdapat 14 tim. Empat tim teratas masuk ke babak 8 besar, pimpinan klasemen berhak menjadi tuan rumah. 2 tim terbawah terdegradasi ke divisi 1.

Arema yang saat itu di latih oleh M Basri mampu masuk ke babak 8 besar. Di Ligina VI ada beberapa pemain baru seperti penjaga gawang muda Agung Prasetyo (Persewangi), Agung Yudha (persema jr) setyo Budiarto (Petrokimia Gresik), Yosep Iyai ( PSBL Bandar Lampung) serta empat pemain dari Persija Ayub Khan, Harianto, I Putu Gede, serta Joko Susilo, dan pemain asing seperti Essomba “Saimo” Atangana, Rodrigo Araya dan pemain fenomenal dari PSIM yang bergabung pada putaran ke-2 Fransisco Rodrigues “Pacho” Rubio.

Pada rehat kompetisi salah satu stasiun TV dari Chile mendokumentasikan laga friendly antara Arema Vs Petrokima di Gajayana. Pertandingan itu sendiri dihentikan pada awal babak ke-2 karena hujan deras, pada saat berkedudukan 3-0 dan kesemuanya gol dicetak oleh Pacho.

Ketika babak 8 besar Arema sempat kekurangan dana, namun Arema mendapatkan bantuan senilai 300 juta dari Cafe Hore-hore milik Jeng Sri. Di laga babak 8 besar saat bertanding lawan Persija Pacho dan Araya terlibat bentrok dengan Luciano Leandro (Playmaker Persija). Kemudian pada saat lawan Persikota, Pacho dituduh memukul Simamo pemain belakang Persikota di lorong ruang ganti. Setelah kejadian itu PSSI tidak memperbolehkan Pacho bermain di Indonesia.

Pada saat partai terakhir babak 8 besar, Arema menyerah 3-0 padahal saat itu hanya membutuhkan seri saja sudah lolos ke babak semifinal. Banyak rumor dari para Aremania yang mengatakan bahwa pertandingan itu sengaja dijual.

Pada tahun tersebut Aremania mengukir sejarah sebagai Supporter terbaik dari PSSI yang saat itu masih di pimpin oleh Agum Gumelar. Karena atas dukungannya terhadap tim Arema yang sangat kreatif dan sportif. Dari sinilah awal banyak munculnya supporter-suporter kreatif di Indonesia.

Indonesia 2001

Pada Ligina/Liga Bank Mandiri VII tetap memakai format 2 wilayah juara wilayah berhak menjadi tuan rumah babak 8 besar, kebijakan PSSI tentang pemain asing adalah 3-2 (3 ketiganya boleh masuk line up tapi hanya 2 yang boleh main, yang satu jadi pemain pengganti).

Arema yang saat itu kembali di Manajeri oleh Iwan “Nawi” Budianto, karena ke cakapannya dalam hal melobi, Iwan Budianto berhasil menggandeng produsen sepeda motor Kanzen sebagai sponsor. dan menarik Daniel Roekito eks pelatih Barito Putra sebagai arsitek Singo Edan. Daniel mengajak eks anak asuhnya di PSIR Hadi Surento sayang Dia
hanya bermain 4 pertandingan karena cedera parah ketika melawan PSS Sleman. Selain Hadi surento ada beberapa
pemain baru seperti Ahmad Junaedi (PKT), Aris Susanto (Persebaya), Andi Setiono (Petrokimia),Khusnul Yuli (Persema),Wawan widiantoro (Persik) dan kembalinya si anak bengal Kuncoro (PSM). diputaran ke II striker asal Nigeria Bamidele F. Bobmanuel.

Pada saat pertandingan derby lawan saudara tua Persema (Malang United) tanggal 25 Februari 2001 terjadi perkelahian antar pemain yang melibatkan Agus Setiawan dari Malang United dengan Kuncoro, Aris Susanto, Harianto dkk. Keributan ini memaksa wasit untuk menghentikan pertandingan di menit ke-31, akhirnya pertandingan itu dapat dilanjutkan 3 hari kemudian. Dari kejadian itu Komdis menghukum Harianto dengan 2 tahun tidak boleh berakfitas di sepakbola nasional. Di LBM VII Arema kembali masuk 8 besar.

LBM VIII 2002

Liga kali menggunakan format 2 wilayah pimpinan klasemen berhak menjadi tuan rumah. Arema yang masih mempertahankan Daniel Rukito dan mayoritas pemain LBM VII. Ada beberapa pemain baru seperti eks pemain timnas U-19 Johan Prasetyo dan Suswanto. lalu Abdul Aziz, Marcus, Jamie Rojas serta kembalinya Aji Santoso. Sedangkan pemain yang meninggalkan Arema antara lain Kuncoro, Junaedi, Bob Manuel Arema kembali masuk ke 8 besar tapi gagal ke babak semifinal. Petro juara tidak lepas dari peran Arema, ketika di babak 8 besar Arema mengalahkan pesaing utama masuk babak semifinal, Persipura dengan skor 1-0.

Ligina IX 2003

Pada Ligina IX 2003 sistem format kompetisi yang digunakan adalah, sistem kompetisi penuh tanpa ada babak 8 besar, semifinal dan final seperti kompetisi-kompetisi sebelumnya. Empat tim terbawah 17-20 langsung terdegradasi, sedangkan dua tim diatasnya (15 dan 16) berhak mengikuti babak playoff promosi/degrasi dengan tim yang berada di divisi satu.

Untuk Arema sendiri Di Ligina IX ini adalah sebuah prestasi terburuk . Arema dihantam berbagai macam cobaan sebelum menjalani roda kompetisi diantaranya ditinggal Manajer Iwan Budianto yang hanya fokus untuk tim promosi Persik Kediri sekaligus membawa gerbong Skuat Arema mulai pemain, pengurus hingga pelatih kiper Sukriyan. Keadaan ini membuat situasi berbalik Arema degradasi sedangkan Persik menjadi sang jawara.
diawal pembentukan tim Lucky AZ menunjuk Gusnul Yakin sebagai pelatih dan Terry Weton dari Australia sebagai Manajer tehknik , tidak berjalan lama posisinya digantikan oleh Gusnul Yakin. karena Lucky sudah tidak mampu lagi untuk menghidupi Arema, pada bulan januari 2003 PT Bentoel Prima Indonesia tbk akhirnya mengakuisisi
Arema. Bentoel langsung bergerak cepat dengan menggeser Pelatih Gusnul Yakin dan digantikan oleh Henk Wullems dari Belanda, serta mengikat pemain baru seperti Stenley Mamuaya, Ansar Abdullah, Charles Horik, Simamo Basile dan Rodrigo Araya Namun penggantian itu sudah terlambat dan Arema harus terdegradasi ke divisi I.

Tahun 2004.

Memasuki persiapan Divisi I Pertamina 2003/2004, masuknya beberapa pemain bertalenta seperti Erol F.X. Iba (eks Semen Padang), Sunar Sulaiman (eks Barito Putra), Aris Budi P. dan Sony Kurniawan (eks Petrokimia Putra), Sutaji (eks Deltras Sidoarjo), Marthen Tao (eks PKT), mampu membuat kinerja AREMA semakin matang dengan sokongan pemain lama macam I Putu Gede, Nanang Supriyadi, Enjang Rohiman, Stanley Mamuaya, Charles Horik serta legiun asing dari Brasil, Claudio de Jesus, Rivaldo Costa, Junior Lima dan Joao Carlos hingga membuat Arema menduduki singgasana Grup Timur dengan rekor 100% kemenangan kandang di stadion Gajayana. Selanjutnya pada Babak 6 Besar di Lebak Bulus Arema menjadi juara grup dengan kemenangan atas Persema Malang 4-1 dan Persibom Boolang Mongondow 3-0. Diakhiri sebagai Juara Divisi I Liga Pertamina 2003/2004 dengan menundukkan PSDS Deli Serdang 1-0 dalam partai final Divisi I di Gelora Bung Karno Tgl 11 Oktober 2004 lewat gol yang dicetak melalui tendangan salto oleh striker Marthen Tao pada menit ke-119. Sekaligus melengkapi sukses ganda dengan mengantarkan Arema kembali memasuki elite sepak bola nasional Divisi Utama. Pelatih : Benny Dollo.

Tahun 2005

Arema menambah beberapa amunisi baru : Alex Pulalo, Firman Utina, Franco Hita, Emalue Serge (Rivaldo Costa ngalup, Junior Lima diganti Serge), hasilnya 8 Besar Divisi Utama Ligina(Peringkat 2 Grup Barat) dan JUARA COPA INDONESIA di Final mengalahkan Persija 4-3.

Tahun 2006

Arema relatif tidak berubah banyak dibanding Skuad 2005, hanya menambah Andela Atangana menggantikan Claudio Jesus dan Leo Soputan ditambah Kiper Aahmad Kurniawan. Hasilnya Liga Indonesia 2006 : 8 Besar Divisi Utama (Capolista Grup Barat) dan mempertahankan COPA Indonesia dengan mengalahkan Persipura 2-0 di Final, sekaligus menyabet Top Skor (Serge), Pemain Terbaik (Aris Budi), dan Suporter Terbaik Aremania. Pada tahun itu juga Aremania menyabet Gelar “SUPORTER TELADAN” dari Menpora.

Tahun 2007

Pelatih Benny Dollo Mundur, diikuti Mayoritas Pahlawan Arema yang membawa AREMA menjadi Juara Copa : Firman Utina, Leo Soputan, Aris Budi, Kurnia Sandi, Warsidi, Marthen Tao, Andela Atangana, Franco Hita, Zaenuri, El capitano I Putu Gede dan Erol Iba. Pelatih Baru didatangkan dari Ceko : Miroslav Janu didampingi mantan asistennhya di PSM Toni Ho, pemain2 baru didatangkan : Ponaryo, Elie Aiboy, Zaenal Ikhwan, Pato Morales, Bruno, Hendro Kartiko dll. Di bawah Miroslav Janu prestasi Arema selama 1/2 musim terpuruk di Ligina Wil. Timur (Posisi 9) dan secara tragis Tersingkir di 32 Besar Copa oleh Persekabpas.

Tahun 2008,

Kompetisi Ligina berganti menjadi Indonesia Super League (ISL), pergantian kompeitisi ini merupakan kebijakan Badan Liga Indonesia ( BLI) untuk meningkatkan kualitas kompeitisi. Kompetisi kasta atas ini diikuti 18 tim profesional. Di tahun petamanya, tahun 2008, Arema dilatih Bambang Nurdiansyah. Tapi Bambang hanya bertahan selama 5 bulan yang kemudian diganti oleh Gusnul Yakin, sampai kompitisi ISL pertama itu berakhir, Arema diposisi 10 besar.

Tahun  2009,

Persiapan Arema justru dianggap sebagai klub yang terlambat melakukan persiapan, semua pihak meragukan Arema akan eksis di kompetisi sepak bola Indonesia, karena atas kebijakan aturan PT Bentoel Investama sebagai pemilik Arema menyerahkan pengelolaan klub kepada konsorsium. Yayasan Arema mendatangkan Robert Rene Alberts, pelatih asal Belanda yang tinggal di Malaysia, tidak hanya satu pun publik bola Indonesia mengenalnya. Punggawa Arema sendiri, sebagian besar penilaian orang adalah pemain-pemain eks Arema, dan pemain yang sama sekali tidak dikenal saat itu, seperti Kurnia Meiga, Ahmad Bustomi, Roman Chamelo, Alam Shah, M. Riduan, M. Fakhrudin, Purwaka Yudhi,  Namun, ditengah kompetisi bergulir, prestasi Arema Indonesia–setelah diganti namanya disamakan dengan nama PT– justru berprestasi tercatat tidak tergeser di posisi puncak klasemen, hingga menjuarai ISL periode tahun kompetisi 2009/2010, dan pemain Arema Indonesia, Kurnia Mega yang pada pertengahan musim menggantikan Markus Haris Maulana (Markus Horrison) karena mengundurkan diri dari Arema terpilih sebagai pemain terbaik, Arema Indonesia juga mampu meraih runner-up Piala Indonesia tahun 2010 (dilansir dari berbagai sumber)

Tahun 2010

Arema mengalami kondisi yang mengenaskan, dengan memulai kompetisi yang dibebani utang  Rp 7,5M. Dtambah dengan perginya pelatih kecintaan Aremania Robert Rene Albert untuk melatih PSM Makasar , pada akhirnya pihak managemet Arema memanggil lagi Miroslav Janu untuk melatih Arema demi mempersiapkan diri untuk mengikuti Liga Chamion Asia. Atas rekomendasi pelatih, akhirnya 90% pemain dipertahankan kontraknya, dan menambahkan Ahmad Amirrudin, Leonard tumpamahu, Talohu Abdul Musafri, Yongki Aribowo dll. Meski akhirnya di LCA Arema belum bisa berbuat banyak, akan tetapi di ISL Arema mampu bertengger di peringkat 2 akhir klasemen ISL  diakhiri pertandingan melawan Bontang FC pada tanggal 19-06-2011  dengan mencatat rekor kemenangan terbesar Arema kandang, yaitu dengan skor 8-0. Sungguh hasil yang sangat membanggakan bagi Aremania

PRESTASI :

– Juara Galatama 1992/1993
– Runner Up Piala Liga 1992
– Juara Divisi 1 Liga Indonesia 2004
– Juara COPA Indonesia 2005 ( berhak berlaga di Liga Champion Asia )
– Juara COPA Indonesia 2006 (berhak tampil di Liga Champions Asia)
Prestasi Lainnya dihitung mulai bergulirnya Liga Indonesia :
Liga Indonesia 1994/1995 : Peringkat 6 Divisi Utama Wilayah Timur
Liga Indonesia 1995/1996 : Peringkat 12 Divisi Utama Wilayah Timur
Liga Indonesia 1996/1997 : Peringkat 3 Divisi Utama Wilayah Barat
Liga Indonesia 1997/1998 : Peringkat 6 Divisi Utama Wilayah Barat (Liga dihentikan)
Liga Indonesia 1998/1999 : Peringkat 3 Divisi Utama Wilayah Tengah
Liga Indonesia 1999/2000 : 8 Besar Divisi Utama (Peringkat 2 Grup Timur)
Liga Indonesia 2001 : 8 Besar Divisi Utama (Peringkat 3 Grup Timur)
Liga Indonesia 2002 : 8 Besar Divisi Utama (Peringkat 2 Grup Barat)
Liga Indonesia 2003 : Peringkat 17 Divisi Utama (Degradasi)
Liga Indonesia 2004 : Juara Divisi I (Promosi Divisi Utama)
Liga Indonesia 2005 : 8 Besar Divisi Utama (Peringkat 2 Grup Barat)
Liga Indonesia 2006 : 8 Besar Divisi Utama (Capolista Grup Barat)
Liga Indonesia 2007 : Peringkat 9 wilayah timur, dan tersingkir di Copa Indonesia
Indonesia Super League 2008 : Peringkat 10 besar
Indonesia Super League 2009 : Prestas tertinggi sebagai Juara 1 ISL
Indonesia Super League 2010 : Peringkat 2 akhir klasemen ISL dan ikut serta dalam Liga Champion Asia
Salam Satoe Jiwa.
Categories: Arema
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: