Home > Arema > Profil Aji Santoso [Legenda Arema]

Profil Aji Santoso [Legenda Arema]

Aji Santoso

Selain Maldini Ayas mempunyai pemain Idola yaitu Aji Santoso, di kesempatan ini ayas coba tampilan profil Aji mudah2an bisa menjadi contoh bagi pemain2 muda yang ada di Indonesia. Cerita ini ayas ambil dari Ongisnade >>>Dari balik musala, lelaki itu muncul. Bukan sepatu bola yang ditentengnya, bukan pula seragam bola. Lelaki bertampang bersih dengan hiasan kumis dan janggut rapi itu membawa sarung biru. Sarung yang terlipat rapi. Ia menyapa beberapa prajurit Batalyon Zeni Tempur 5 sebelum memasuki Lapangan Kepanjen di dekat gudang tua kompleks tentara itu.

Siapa mengira lelaki yang selalu menghiasi Lapangan Kepanjen setiap sore itu adalah Aji Santoso. Dialah salah satu pemain nasional yang tak pernah duduk di bangku cadangan. Tampangnya mirip ustad.

“Maaf lama menunggu. Sebagai muslim saya ingin terus meningkatkan kualitas ibadah. Apa pun yang saya kerjakan dan saya dapat, sampai saya menjadi seperti sekarang, adalah berkat rahmat dan kasih sayang Allah SWT,” kata mantan pemain Arema yang kini didaulat menjadi pelatih Metro Football Club itu. Menurut sejumlah pemain Metro, Aji memang kian rajin beribadah. Sebelum melatih, ia selalu saja terlihat khusyuk melakukan salat.

Sore itu, sehabis salat, Aji langsung menyambar bola. Ia mengajari cara menyundul bola dengan akurat, merebut bola dari kaki lawan, dan cara menghalau pergerakan lawan. Kecepatan, kelenturan, dan ketahanan fisik pemain juga menjadi porsi latihan.

Aji menukangi Metro sejak Juni silam. Sebelumnya, ia menjadi pelatih tim Pra-PON Jawa Timur setelah sukses meloloskan Persiko Kota Baru, Kalimantan Selatan, dari kasta divisi III ke divisi II. Tiga lompatan kecil yang berharga buat Aji.

Dunia kepelatihan adalah hal baru bagi pemain yang pensiun pada usia 34 tahun itu. Saat para penggemarnya bersorak pada Minggu sore, 20 Juni 2004, Aji mengundurkan diri dari Arema. Acara pensiun itu ia diumumkan lewat pengeras suara kepada publik sepak bola Malang, yang memadati Stadion Gajayana, sebelum laga uji coba antara Arema–yang saat itu dibesut Benny Dolo–dan tim nasional asuhan Ivan Venkov Kolev.

Aji diberi kesempatan berpamitan langsung kepada Aremania, penggila Arema, dari tengah lapangan. Tiada kata yang terucap kecuali lambaian tangan sebagai penanda perpisahan. Tempo menyaksikan betapa ia dipuja dan dibanggakan Aremania. Apresiasi yang begitu megah membuat Aji nyaris “nangis bombay” karena terharu.

“Saya sudah mendapatkan kesempatan mendedikasikan kemampuan selama belasan tahun. Saya sedih sekali, terlebih saya belum selesai berjuang bersama Arema untuk kembali ke divisi utama. Tapi saya harus memilih dan memutuskan pensiun,” kata Aji sambil menghela napas panjang.

Tak lama berselang, Aji mengikuti kursus kepelatihan yang diselenggarakan Konfederasi Sepak Bola Asia selama dua pekan. Sejak itulah dia disodori melatih Akademi Arema selama tiga bulan.

Dan sejak itulah dunia pelatih terbentang di hadapannya. Pada pertengahan 2005, ia dipercaya Peter Withe, pelatih kepala tim nasional, untuk memoles tim nasional U-17 ke kejuaraan ASEAN U-17, yang digelar oleh Federasi Sepak Bola ASEAN di Bangkok, Thailand, 4-19 Juli 2005. Selanjutnya, pada 2006, Aji melatih Persiko mulai Maret hingga Agustus.

“Saya ingin beribadah dengan menekuni profesi pelatih. Dengan cara ini saya masih bisa mencari rezeki yang halal untuk menafkahi istri dan kelima anak saya,” ujar pemain yang memimpikan jadi pelatih sejak tujuh tahun lalu itu.

Pernah berguru kepada pelatih Chelsea, Jose Mourinho

Pengalamannya menjadi pemain selama 19 tahun bagai buku pelajaran yang tak pernah terlupakan. Ia selalu mengajari para pemainnya seperti ia dulu pernah ditempa. Sesekali Aji juga membaca beberapa buku teori sepak bola dan rajin mengikuti perkembangan olahraga nasional dan dunia dari media massa guna menambah pengetahuan dan wawasannya.

Aji bersyukur pernah diajar oleh sejumlah pelatih terbaik di negeri ini. Dari sekian banyak pelatih, Aji mengaku paling banyak menyerap ilmu dan wawasan kepelatihan dari Andi M. Teguh (almarhum), bekas pelatih tim nasional yang juga pernah melatih Arema (1989-1991). Pelatih asing di luar Indonesia yang disukai Aji adalah Jose Mourinho, manajer-pelatih Chelsea.

Aji lahir di Kepanjen, Kabupaten Malang, pada 6 April 37 tahun silam. Ia besar dalam lingkungan keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Sejak kelas 2 sekolah dasar, ia mulai suka bermain sepak bola antarkampung.

Saban hari sepulang sekolah dan sebelum latihan, Aji harus bekerja membungkus kerupuk di sebuah pabrik demi membantu orang tuanya. Dari pabrik kerupuk, Aji kecil jadi tukang pikul di pasar. Ia biasa mengangkut terasi dan ikan asin. Upah yang didapat dipakai buat menambah biaya sekolah.

Dengan nada melankolis, Aji bercerita, “Ketika saya makin serius meniti karier di sepak bola, saya menyadari hikmah dan manfaat menjadi seorang tukang bungkus kerupuk dan tukang panggul di pasar,” kata Aji. “Masa lalu turut membentuk saya seperti sekarang.”

Bakat Aji makin terarah dan terasah di bawah asuhan Winarto, pelatih klub Argo Manunggal Saunggaling (AMS), Kepanjen, selama dua tahun (1985-1986). Dari AMS, Aji diterima di Persema Junior. Uang saku yang diterimanya Rp 10 ribu.

Nama Aji makin dikenal berkat kepiawaiannya sebagai bek kiri. Sinyo Aliandoe pun kepincut dan memboyong Aji ke Arema Malang, klub Galatama yang baru saja dibentuk pada 11 Agustus 1987. Ia resmi jadi pemain profesional dengan bayaran Rp 40 ribu per bulan.

“Saya tak mau pusing soal gaji. Obsesi saya waktu itu main sebagus-bagusnya dan memberikan prestasi terbaik. Kalau bisa prestasi bagus, toh nantinya soal gaji bisa ikut naik.”

Aji benar. Bukan hanya bayarannya yang naik, Aji malah diminta memperkuat tim nasional meski baru delapan bulan membela Arema. Piala Kemerdekaan 1990 merupakan debutnya sebagai pemain tim nasional.

“Kadang-kadang…,” Aji mengenang, “sampai sekarang saya tak percaya jika karier saya waktu itu bisa melesat cepat. Tapi saya sangat mensyukurinya. Allah telah memberikan ganjaran yang setimpal atas pengorbanan saya pada masa kecil.”

Ketika Aji Santoso Kembali ke Kepanjen

Di tim nasional, prestasi Aji sungguh sensasional. Namanya kian kondang setelah ikut mempersembahkan medali emas SEA Games 1991. Masa keemasan sebagai pemain nasional ia bukukan dalam kurun waktu 1990-1999.

Aji tetap berprestasi di kompetisi nasional. Ia tercatat sebagai pemain yang tiga kali mempersembahkan gelar juara kompetisi PSSI, yakni untuk Arema (1992/1993), Persebaya Surabaya (1997/1998), dan PSM Makassar (1999/2000).

Yang membanggakan Aji lagi, ia tak pernah duduk sebagai pemain cadangan, baik saat di tim nasional maupun di klub profesional. Ia selalu menjadi pemain utama.
Kenangan termanis diperoleh Aji saat berkostum Merah-Putih. Di final Piala Kemerdekaan di Senayan, Jakarta, September 2000, Aji menceploskan satu gol dan menggenapkan skor keunggulan atas Irak menjadi 2-0.

Kenangan pahitnya, pada 1995, ia didemo Aremania gara-gara memutuskan hengkang ke Persebaya, yang notabene musuh bebuyutan Arema. Sekitar 500 Aremania membentangkan spanduk berisi protes, tepat di depan hotel tempat resepsi pernikahannya dihelat.

“Waktu itu saya sampai dicap sebagai pengkhianat. Tapi saya tanggapi dengan dingin. Saya justru berprasangka baik saja bahwa Aremania protes karena mereka mencintai saya.”

Setelah merumput di Persebaya dan PSM, Aji balik ke kandang Singo Edan, julukan Arema. Peruntungan Aji tak moncer. Arema sempat terdegradasi dari divisi utama ke divisi I (2003) serta belum sempat mengantar Arema menjuarai kompetisi divisi I dan kembali ke divisi utama.

Kini, selain sibuk melatih Metro, Aji sedang berusaha menghidupkan lagi CV Cipta Pratama, perusahaan pembuat peralatan sepak bola yang ia dirikan pada 2000, dengan modal tabungan gaji dan bonus selama menjadi pemain.

Hasil kerja kerasnya juga berwujud sebuah rumah di Perumahan Taman Sulfat, Kota Malang. Di sinilah ia tinggal bersama keluarga tercintanya.

Pada waktu senggang, Aji menyempatkan diri bermain tenis. Ia menjalani hobi ini sejak 1998 untuk menjaga kondisi tubuhnya tetap prima dan, “Awet muda,” katanya seraya ngakak.

Jika tak sibuk pun Aji berusaha selalu mengantar Bella, Mithan, dan Kevin ke sekolah. Sorenya, melatih Metro. Malamnya, ia usahakan mengaji.

Sesibuk-sibuknya Aji, tentu tak lepas dari urusan bola. Sepak bola memang pilihan hidupnya. Itu sebabnya ia selalu berusaha menyempatkan diri ke Stadion Gajayana di Kota Malang dan Stadion Kanjuruhan di Kepanjen untuk melihat pertandingan Persema dan Arema.

Setelah itu, Aji pasti kembali ke Kepanjen.

Profil:

Nama : Aji Santoso
Tempat dan tanggal Lahir : Kepanjen, 6 April 1970
Istri : Rini
Anak : Bella Sabrina Sufi, 11 tahun, Mithan Andira Sufi (10), Kevin Aji Ramadhan (8), Bintang Aji Ramadhan (6), Diva Tiara Sufi (4)

Karier :
Argo Manunggal Saunggaling (1985/1986)
Persema Junior (1986)
Arema Malang (1987-1995)
Persebaya Surabaya (1995-1999)
PSM Makassar (1999/2000)
Arema Malang (2001-2004)
Tim Nasional (1990-1999)

Prestasi :
Medali perak PON (Jawa Timur/1990)
Medali emas SEA Games Filipina (timnas/1991)
Medali perunggu SEA Games Singapura (timnas/1993)
Juara Galatama (Arema Malang/1993)
Juara Liga Indonesia (Persebaya/1998)
Medali perak SEA Games Jakarta (timnas/1997)
Medali perunggu SEA Games Brunei Darussalam (timnas/1999)
Juara Liga Indonesia (PSM Makassar/2000)

sumber:
Ongisnade

Categories: Arema
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: