Home > Arema > GRK pencipta Boso Kiwalan Khas AREMA

GRK pencipta Boso Kiwalan Khas AREMA

Seperti biasa sehabis pulang kerja ayas duduk-duduk sambil menikmati kopi bikinan ojob beserta tembakau yang di gulung menggunakan kertas yang ada tulisan 234. Belum lama duduk ojob ngajak ayas ke dokter untuk memeriksakan anakku yang kedua. Sesampai di tempat Dokter praktek ayas ketemu nawak Aremania Balikpapan. Tidak lama ngobrol2 menggunakan bahasa balikkan khas kami. Sesampainya di rumah ayas berpikir kira2 ada sejarahnya ngga ya. Ayas coba googling untuk mencari jawabannya. Ternyata ada catatan ini di tulis di Facebook MOHE Forever.

Dan inilah data tentang sejarah Osob Kiwalan yang saya peroleh dari internet, Osob Kiwalan Kèra Ngalam (Boso Walikan Arèk Malang) itu ciptaan dari para pejuang dalam perang kemerdekaan. Mereka itu adalah kelompok Gerilya Rakyat Kota (GRK) yang sangat disegani di Kota Malang. Boso Walikan ini dianggap perlu guna menjamin kerahasiaan, efektifitas komunikasi sesama pejuang. Selain juga sebagai tanda pengenal identitas kawan atau lawan.

Cara pengenalan dengan menggunakan Boso Walikan ini sangat penting. Sebab pada masa Clash II perang kemerdekaan, yaitu sekitar akhir Maret 1949, Belanda banyak menyusupkan mata-mata ke dalam kelompok pejuang di Kota Malang. Namanya juga mata-mata, mereka tentu sudah fasih berbahasa Jawa gaya jawatimuran. Dan memang betul, mereka mampu berkomunikasi serta menyerap informasi dari kalangan pejuang GRK. Tugas para mata-mata itu terutama adalah untuk mencari data tentang: Sisa- sisa Laskar Mayor Hamid Rusdi yang gugur pada 8 Maret 1949 dalam pertempuran Dukuh Sekarputih. Dukuh Sekarputih itu sekarang menjadi Desa Wonokoyo.

Nah, berdasarkan data-data yang telah diperoleh, maka pasukan Belanda pun memburu mereka. Bolak-balik sisa-sisa Laskar Mayor Hamid Rusdi kok bisa tertangkap? Padahal mereka sudah bersembunyi atau disembunyikan oleh penduduk sedemikian rupa. Tidak itu saja, manuver-manuver mereka pun bisa terbaca oleh pasukan Belanda. Maklum kala itu belum ada HP, jadi untuk mengantisipasi agar kejadian serupa tidak terulang lagi, seorang pejuang Kota Malang bernama Suyudi Raharno mempunyai gagasan cerdik. Ia menciptakan sebuah bahasa baru bagi para pejuang di Kota Malang. Dengan adanya bahasa baru tersebut diharapkan para pejuang dapat menjaga kerahasiaan informasi. Lebih dari itu identitas para pejuang pun bisa terjamin.

Bahasa baru itu memang lebih kaya dengan kode dan sandi. Uniknya lagi bahasa baru itu tidak terikat pada aturan tata bahasa yang umum dan baku. Ia hanya mengenal satu cara, baik dalam pengucapan maupun dalam penulisannya. Yaitu dilakukan secara terbalik dari belakang dibaca kedepan. Karena adanya komitmen dan juga keakraban dalam pergaulan sehari-hari, maka dalam waktu singkat para pejuang itu sudah fasih menggunakan bahasa baru tadi. Para mata-mata atau penyusup, memang tidak setiap hari bergaul dengan para pejuang. Dengan sendirinya mereka tidak bisa mengikuti perkembangan yang terjadi di kalangan para pejuang.

Termasuk ketidak fahaman mereka tentang perkembangan bahasa baru yang tiba-tiba saja ngetrend di kalangan para pejuang. Nah, dari sinilah belangnya para penyusup itu ketahuan. Sebab mereka memang tidak bisa diajak berkomunikasi dengan menggunakan bahasa baru. Malah kala itu ada suatu pendapat, bahwa siapapun yang tidak bisa menggunakan bahasa baru Kota Malang, maka ia akan di cap bukan dari kalangan pejuang atau simpatisan para pejuang! Lebih dari itu komunikasi antar pejuang dapat berlangsung dengan cepat dan dapat terjaga kerahasiaannya. Akhirnya ketahuanlah bahwa yang membocorkan segala informasi tentang bekas Laskar Hamid Rusdi itu tak lain adalah orang-orang suruhan pasukan Belanda.

Lantas apa yang dilakukan oleh para pejuang setelah berhasil mengetahui identitas para penyusup. Tentu saja setelah diinterograsi, mereka pun langsung dihukum mati! Kembali ke masalah bahasa baru Kota Malang, yang tak lain adalah Osob Kiwalan (Boso Walikan) tadi: Karena bahasa ini sangat bebas dan longgar aturannya maka pengembangannya-pun jadi sangat luas. Untuk itulah maka perlu disepakati beberapa istilah penting dikalangan pejuang. Kesepakatan istilah ini diperlukan juga karena banyak kata penting sulit untuk dibaca terbalik sehingga harus dicari istilah dan padanan yang sesuai namun mudah diingat oleh para pelakunya. Contohnya: kata Belanda dalam bahasa Jawa disebut Londo, dan ini cukup sulit untuk dibaca terbalik. Lalu dicarilah istilah padanannya yaitu Nolo.

Kemudian untuk mata-mata, jika dibaca terbalik menjadi atam. Namun untuk menentukan bahwa yang dimaksud dalam istilah tersebut adalah antek Belanda maka ditambahi kata kèat dari asal kata taèk yang dalam bahasa jawa berarti kotoran. Kèat atam atau kotoran mata dalam bahasa jawa disebut kètèk adalah sebutan yang pas untuk para penyusup tadi. Begitu juga dengan nama peralatan perang, seperti senjata genggam. Karena sulit menemukan istilah yang pas maka dipakai kode samaran benduk. Sementara untuk senjata laras panjang (dowo) disebut benduk owod atau disingkat owod saja.

Untuk menunjuk suatu etnik atau masyarakat suku tertentu jadilah kata-kata berikut ini: Onèt untuk Cino Orudêm untuk Meduro. Bara untuk Arab. Selebihnya sulit untuk dibalik dan nggak pas di dengar oleh telinga. Sedangkan untuk menyebutkan sesuatu yang baik/bagus digunakan istilah nès dari asal kata bahasa arab zèn. Contohnya: kadit nès, itu maksudnya tidak baik. Begitu pula dalam menyebut orang tua laki-laki (ayah) orang Arab biasa menyebut dengan abah atau sèbèh yang kemudian dibalik menjadi èbès. Kelak istilah èbès menjadi sangat populer di Kota Malang.

Sebutan èbès itu ditujukan sebagai gelar kehormatan tidak resmi bagi para komandan, pemimpin atau pembesar dan pemuka masyarakat yang dituakan oleh segenap masyarakat Malang. Itu berlaku sampai dengan sekarang. Misalnya èbès Sugiyono, mantan Walikota Malang yang kharismatik. Lantas bagaimana dengan si pencipta bahasa baru Kota Malang ini?: Suyudi Raharno pada September 1949 gugur disergap Belanda di suatu pagi buta dipinggiran wilayah Dukuh Genukwatu.

Genukwatu itu sekarang adalah Purwantoro. Konon ada mata-mata yang melaporkan keberadaan Suyudi Raharno di tempat itu. Padahal situasi kala itu sedang ada genjatan senjatan antara laskar pejuang Kota Malang dengan pasukan Belanda. Adalah Wasito, ia kawan akrab Suyudi Raharno, dan salah seorang pencipta Boso Walikan Coro Malang, ia lebih dulu gugur dalam pertempuran di Gandongan. Gandongan itu kalau sekarang adalah Pandanwangi. Jazad Suyudi Raharno dan Wasito kini terbaring di Taman Makam Surapati Malang. Sudah saatnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga memberikan penghargaan pada mereka berdua atas jasa-jasanya sebagai pencetus ide lahirnya Boso Walikan Coro Malang…

Itu Sedikit yang ayas peroleh dari googling ayas hari ini. (Arek Malank)

Categories: Arema
  1. November 30, 2011 at 8:50 am

    alhamdulilah,, ayas wes nemu sejarae,, wkwkwkwkwkwk rutam nowus sam,,,

  2. December 1, 2011 at 2:58 pm

    oyi sam..podo2

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: