Home > Aremania > Sepakbola Harga Diri

Sepakbola Harga Diri

Foto Timnas Tahun 1983

Kata para ahli harga diri ini berkaitan dengan dua hal, yaitu perasaan kompetensi pribadi dan perasaan nilai pribadi. Atau dengan kata lain harga diri itu merupakan perpaduan antara kepercayaan diri dan penghormatan diri. Mempunyai harga diri yang kuat artinya merasa cocok dengan kehidupan dan penuh keyakinan, yaitu mempunyai kompetensi dan sanggup mengatasi masalah-masalah kehidupan.(Kompas)
Sepakbola Indonesia memang menghadirkan banyak hal yang bersifat unik. Kadang keunikan ini menjadikan kondisi persepakbolaan Indonesia memiliki tontonan asyik diluar permainan teknis yang disuguhkan. 

Sebagian orang memplesetkan keunikan tersebut dengan memberi contoh Sepakbola Indonesia memiliki keunikan tersendiri sebagai “multi olahraga”. Seperti cabang olahraga Triathlon yang menggabungkan beberapa cabang olehraga atletik. Sepakbola Indonesia juga menggabungkan cabang olahraga lain kedalamnya, seperti pencak silat, karate, kungfu, dan lain sebagainya. Hal ini digunakan untuk menyindir pelaku persepakbolaan Indonesia entah pemain, suporter, aparat maupun official team yang menggunakan keahlian beladirinya untuk menganiaya “lawan”. Utamanya adalah wasit.

Banyak pendapat mempresentasikan bahwa Persepakbolaan Indonesia dipenuhi oleh konspirasi tingkat tinggi yang bermuara pada Badan/Organisasi yang mengurusi Liga itu sendiri. Melihat iklim pemerintahan di Indonesia itu sendiri saya kira sudah mewakili bagaimana birokratisme itu melanda persepakbolaan Indonesia, bagaimana pula budaya “KKN” masih meracuni negeri ini sampai ke cabang olahraga.

Semua hal diatas tentulah berhubungan dengan efek prestise. Tujuannya jelas untuk menjadi yang terbaik, terhebat, meski dilalui oleh kompetisi yang tidak sehat. Semuanya saling tuding siapa yang salah dan siapa yang benar, meski dirinya sendiri tampak tidak mengakui bahwa ia turut serta dalam membuat kesalahan itu.

Indonesia adalah negara yang memiliki keberagaman budaya dan adat istiadat. Selain itu secara desentralisasi Indonesia memiliki puluhan provinsi dan ratusan kota/kabupaten. Tiap kota/kabupaten memiliki minimal sebuah tim sepakbola. Hal inilah konsep nyata dari pembinaan bola di Indonesia serta warisan dari Liga eks Perserikatan dulu. Meski banyak klub eks perserikatan yang “terpaksa” vakum karenanya.

Sepakbola memunculkan kebanggan. Hal ini berlaku di Indonesia tentunya. Setiap tim dipaksa untuk mereguk kemenangan demi kemenangan untuk tujuan akhir, meraih prestasi dan mempertahankan prestise. Meski klub tersebut mewakili daerahnya bertanding, yang terpenting mereka bisa meraih prestise bahwa mereka mampu menjadi yang terbaik dengan mengalahkan tim dan daerah lainnya.

Inilah sepakbola prestise dan harga diri. Liga Indonesia dipenuhi hal semacam ini. Hingga pada akhirnya sampai memunculkan persaingan yang tidak sehat. Ada yang klub yang menjalin konspirasi dengan Organisasi yang mengurusi Liga ini, hingga jor-joran uang untuk membentuk sebuah The Dream Team. Dampaknya Klub-Klub kecil dipaksa untuk tidak mampu bersaing dengan klub besar. Meski antara klub besar dan kecil itu tidak ada bedanya, sama-sama memiliki dana yang bersumber pada uang rakyat.

Di sisi lain akibat persaingan itu memunculkan sebuah perang harga diri. Ini bukanlah perang yang didominasi oleh sebuah klub saja, namun sampai menyeluruh hingga suporternya dan gairah kehidupan di daerahnya masing-masing.

Sebutlah Klub dan Suporter persebaya tentu akan merasa malu dan harga dirinya tercoreng apabila sampai kalah dengan rivalnya, Arema Malang. Demikian pula Arema Malang yang merasa terinjak-injak ketika rivalnya tersebut sukses “membajak” Hendro Kartiko dan Bejo Sugiantoro dari bumi Arema. Hal ini berlaku ketika Aremania sebagai suporter Arema Malang girang bukan kepalang ketika Arema berhasil mengatasi perlawanan Persekabpas Pasuruan dan Persebaya Surabaya di kandang lawan. Agaknya seperti tersirat ekspresi kemenangan. Yah kemenangan atas sebuah harga diri. Setelah bertahun-tahun terdzalimi, kini mereka seolah merdeka dan siap menunjukkan harga diri mereka sebenarnya seperti apa.

Itu adalah contoh kecil dari sekian perang harga diri dan memperebutkan prestise dalam kompetisi persepakbolaan Indonesia. Kadang hal ini memunculkan sinergi positif dalam artian bahwa tiap klub/suporter memiliki semangat bersaing yang tinggi dan berusaha untuk menjadi yang terbaik.

Terkadang persaingan yang berujung pada prestise dan harga diri itu menimbulkan aura negatif. Contohnya apabila dua kubu memiliki sifat yang keras dan tidak mau mengalah untuk menunjukkan siapa yang terbaik. Hal ini tidaklah menjadi masalah apabila mereka didukung jiwa sportivitas yang tinggi. Tapi jika tidak bersiaplah untuk hal yang tidak diinginkan, seperti misalnya tragedi Kerusuhan Suporter di Tambaksari, Surabaya pada awal September 2006 ini.

Terpenting dari hal diatas adalah sedini mungkin kita bisa meningkatkan kualitas sistem kompetisi persepakbolaan Indonesia. Wujudkan perilaku sportivitas dan fair play di kalangan pihak-pihak yang terlibat secara langsung dalam persepakbolaan Indonesia itu sendiri.

Share : Memoar Anak Negeri

Categories: Aremania
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: