Home > Aremania > Siapa Penerusnya…?

Siapa Penerusnya…?

Keabadian atau kekekalan secara harfiah ialah sebuah satuan waktu yang tidak ada batasnya, atau waktu yang yang tidak berhingga, seperti yang diungkapkan dalam ungkapan perdamaian yang abadi, atau istirahat yang abadi. Bila kata keabadian diterapkan kepada sifat Ilahi, maka tidaklah cukup hanya pengertiannya sebagai perpanjangan waktu sehingga berlangsung tanpa akhir. Keabadian Ilahi adalah suatu keberadaan yang tanpa awal dan tanpa akhir, serta tak mengandung perubahan maupun urutan dalam waktu. Keabadian ilahi berada di luar dimensi waktu. Pengertian keabadian ilahi ini sukar dipahami oleh manusia sepenuhnya.(Wikipedia)Sebenarnya memang tidak ada yang abadi dalam diri manusia, pasti pada suatu saat akan pergi, hilang ataupun berubah. Pada setiap manusia itu mempunyai sifat bosan, dari sifat tersebut manusia akan berubah pola hidupnya untuk menjadi lebih baik. Dalam artian Perubahan yang dilakukan insan tersebut untuk menjadikan kehidupannya lebih baik dari sebelumnya.

Suatu perubahan yang terdapat di dalam diri manusia seringkali diikuti oleh perubahan dalam struktur sosial dan pola budaya didalam masyarakat. Kita semua tahu setiap Aremania siapa yang tak mengenal sosok Yuli Sumpil, Yuli Sumpil adalah sebuah leader(pemimpin). Ia memiliki wibawa tidak hanya kepada Aremania tetapi juga suporter di Indonesia.

Dulu kita pernah mendengar ucapan yang mengejutkan dari sosok sang Dirijen, ia ingin berhenti menjadi dirigen dan berkubang menjalani kehidupan ini selain sebagai Aremania juga manusia yang saban hari terlingkupi sebuah harapan akan kehidupan yang lebih baik. Dengan telah berpulangnya sang Ayahanda dan di tambah dengan carut marutnya AREMA Serta kompetisi yang tidak jelas saat ini apakah ucapan tersebut akan menjadi kenyataan.

Memang kita semua menyadari Sosok Yuli Sumpil memang sudah melekat dalam diri para Aremania, tapi Yuli juga manusia biasa yang juga ingin suatu perubahan di dalam dirinya dan kehidupanya di masa mendatang dan itu wajar. Dia pasti juga menginginkan suatu keluarga, seperti kakak-kakaknya. Ada pernyataan menarik dari beberapa rekan suporter lain, bahwasanya tidak ada kemeriahan di tribun Aremania bila tidak ada Yuli. Dengan segala hormat tanpa melupakan kontribusi besar dari masing-masing Aremania tentu hal ini kita jadikan sebagai catatan khusus kepada Aremania.

Menjadi dirigen bukanlah sebuah pekerjaan yang menghasilkan sebuah nafkah lahiriah. Yuli menggarisbawahi di dalam film The Conductor bahwasanya selain atas dasar sukarela, menjadi dirigen Aremania adalah sebuah tugas yang diembannya untuk memotivasi Arema dan membawa Aremania sebagai penebar virus damai di belantika sepakbola Indonesia.

Seringkali ketika ada beberapa Aremania maju untuk memimpin Aremania kadangkala disuruh turun kembali ke tribun. Entah ini apakah bagian dari pembelajaran sebuah proses demokrasi atau tidak namun seringkali terdapat penjelasan yang logis mengenai hal ini. Hal ini terkait dengan kurangnya sosialisasi terhadap rekannya sesama Aremania yang lain atau gaya dan interprestasi sebagai dirigen yang dirasa kurang oleh Aremania yang lain. Disinilah selain keberanian juga dibutuhkan sebuah wibawa dan kharismatik untuk menjadi seorang dirigen.

Sekarang Pertanyaannya Andai Yuli tidak menjadi dirigen lagi siapakah yang akan menjadi dirigen berikutnya?

[Alie Blue Ones]

Categories: Aremania
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: