Home > Nasional > Jangan Lagi Mengotori Sepak Bola

Jangan Lagi Mengotori Sepak Bola

Silang pendapat adalah hal lumrah dalam menyikapi suatu persoalan. Tapi, bila sampai perbedaan melahirkan kekacauan, segeralah berbalik arah. Tujuan pokok harus diutamakan walau tidak selalu memuaskan semua pihak.

Langkah para pembina sepak bola nasional telah melenceng jauh. Menyikapi perbedaan lebih mengedepankan emosi ketimbang logika. Mendukung opini berlandaskan faktor politis ketimbang bisikan nurani yang bersih.

Hal yang sesungguhnya mudah untuk memilih seorang figur pemimpin PSSI malah berbelit tak karuan. Pertengkaran karena memaksakan kehendak menjadi menu utama yang justru semakin memperlebar ketidaksepahaman.

Campur tangan banyak pihak berbau langkah politik mengakibatkan tuntutan nilai sportif menjadi kabur. Sikap respek kepada lawan dan kawan sebagaimana jargon FIFA tak lagi mempan oleh para pemilik suara di PSSI.

Tidak perlu dibantah karena inilah fakta! Dua kali usaha pemilihan pengurus baru PSSI berakhir ricuh. Usaha FIFA dan AFC menengahi pertikaian itu sia-sia, terutama pada kongres di Jakarta, 20 Mei.

***

Ada kalangan kecil yang merasa menjadi pahlawan sepak bola Indonesia dan menuduh FIFA bertindak sewenangwenang. Memang, FIFA bukanlah dewa yang bersih dari segala noda, tapi realitanya organisasi sepak bola dunia itu memiliki kedaulatan yang amat kuat.

Apa boleh buat, bila masih ingin bagian dari FIFA, maka kita harus ikut aturan main mereka. Bila memang tak mau lagi menjadi anggota, silakan minggir dan berani memikul segala konsekuensi.

Namun demikian, keluar dari FIFA tak semata karena dorongan api emosi. Di dalam atau di luar FIFA harus melalui mekanisme yang sah dan oleh pucuk pimpinan organisasi yang legal.

Kita menghargai usaha dan dukungan kalangan tertentu yang memaksa Nurdin Halid turun dari jabatan ketua. Sayangnya, ambisi lain datang untuk menguasai PSSI secara utuh sehingga mengesampingkan aturan main yang disahkan FIFA.

Gagalnya PSSI memilih ketua menjadi konsumsi negatif internasional. Situasi yang tak menyenangkan ini juga diwarnai bau busuk penyakit korupsi yang melibatkan tokoh teras di kantor Menpora.

Dua kasus ini menjadi saling terkait karena berhubungan dengan persiapan SEA Games di Jakarta dan Palembang, November depan. Sesmenpora, Wafid Muharam, diciduk KPK karena kasus suap pembangunan wisma atlet Palembang.

Citra buruk ini ternyata berdampak luas. Bendahara Partai Demokrat, Nazaruddin yang dinilai sebagai tokoh di balik korupsi itu bahkan melontarkan serangan balik dengan menuduh Menpora Andi Mallarangeng kebagian rezeki tak halal itu.

Dua pukulan datang bersamaan. Bila pemilihan ketua gagal lagi pada kongres di Solo, 9 Juli ini, maka FIFA akan menjatuhkan sanksi. Akibat hukuman ini sudah jelas, Indonesia tidak boleh menyelenggarakan pertandingan sepak bola di SEA Games nanti. Nah, lho!

***

Larangan menggelar pertandingan sepak bola di SEA Games hanyalah awal menyakitkan. Setelah itu, Indonesia akan menderita lebih sakit lagi dengan berbagai sanksi lebih berat di kemudian hari.

Agar lepas dari beban itu, maka jalan terbaik adalah rekonsiliasi sepak bola nasional. Harus saling percaya, menyatukan visi dan kerja sama. Setidaknya para pemilik suara menunjukkan niat baik dengan mengikuti aturan yang sudah ditetapkan.

Jangan lagi ngotot mengajukan nama yang sudah dicoret oleh FIFA. Jika itu yang terus digilindingkan, akan kacau lagi. Saya yakin Agum Gumelar sebagai ketua Komite Normalisasi akan bersikap bijaksana dan tegas.

Sekali lagi, tegas dan tak boleh kompromi kepada pengacau. Memaksakan kehendak juga adalah perusak moral sepak bola Indonesia, karena itu kelompok seperti itu harus disingkirkan. Sepak bola Indonesia bukan milik satu-dua orang atau kelompok tertentu, tapi milik seluruh masyarakat.

Para kandidat ketua dan pengurus lain sejatinya turut menciptakan suasana damai. Kampanye berlebihan apalagi dengan janji kosong program kerja tanpa dibarengi kemampuan memajukan sepak bola Indonesia adalah sia-sia. Kali ini tidak boleh hanya menjual popularitas yang tak bermakna.

Citra pemilihan ketua yang erat dengan politik uang seharusnya tidak terjadi. Jika tabiat buruk itu terus dipelihara, maka hingga kapan pun sepak bola negeri ini tak akan pernah membuahkan prestasi bagus. Posisi ketua tidak boleh dilihat sebagai kendaraan politik, tapi panggilan untuk berbuat sesuatu untuk bangsa.

Kita tidak rela lahan olah raga turut dihancurkan oleh praktik-praktik politikus busuk. Tolonglah, jangan mengotori sepak bola Indonesia yang tengah sekarat dan berusaha bangkit dari keterpurukan prestasi.

Siapa pun terpilih menjadi nomor satu nanti, tugas berat sudah menanti. Target meraih medali emas SEA Games hanyalah salah satu beban. Masih setumpuk pekerjaan yang segera dipikul. Sesuai dengan harapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Indonesia harus menjadi bangsa yang disegani di Asia.

Para pemilik suara yang terhormat. Tidak perlu berpikir aneh-aneh, mengikuti aturan yang sah sudah merupakan bagian dari pengorbanan dan kewajiban. Jangan lagi menambah beban negeri ini dengan karakter ingin menang sendiri.

Menurut Anda, siapa yang terbaik, silakan pilih. Tapi, bila pilihan pihak lain yang menang, tolong hormati dan dukung. Biarlah yang terbaik melaksanakan tugasnya tanpa direcoki. Semoga sukses!

Dikutip dari Rubrik Catatan Ringan Tabloid BOLA

Categories: Nasional
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: