Home > Pendidikan > Awal Mula Tentara Genie Pelajar (TGP)

Awal Mula Tentara Genie Pelajar (TGP)

Kita sekarang mengenal Menwa di kampus – kampus sebagai warisan wajib militer jaman dulu. Tapi sebenarnya ada lagi kesatuan pelajar yang lebih muda daripada Menwa yang turut berjuang di perang kemerdekaan. Ada empat kesatuan dari kalangan pelajar yang terbentuk dengan sukarela awalnya, yaitu :
1. Tentara Pelajar (TP)
2. Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP)
3. Tentara Genie Pelajar (TGP)
4. Corps Mahasiswa (CM)

Dua kesatuan yang disebutkan pertama dan kedua yaitu TP dan TRIP sebenarnya sama saja fungsinya dan merupakan sekumpulan kesatuan paramiliter yang berisikan pelajar – pelajar mulai setingkat SMP. Apabila di Jawa Tengah lebih dikenal Tentara Pelajar (TP), maka di Jawa Timur lebih dikenal dengan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Sedangkan TGP lebih merupakan kesatuan zeni yang bersifat teknis seperti pembuatan jembatan, jalan dan juga penghancuran yang berkaitan dengan bahan peledak. Mengapa TGP bersifat teknis ? Karena, memang terdiri dari pelajar dari pendidikan teknis seperti STM. Yang terakhir, Corps Mahasiswa merupakan cikal bakal dari Resimen Mahasiswa (Menwa)

Baiklah kita berkenalan dengan TGP saja dahulu.

Tentara Genie Pelajar (TGP)

Awal Mula

Awalnya seperti kesatuan militer selain lulusan PETA, maka kesatuan lain terbentuk secara sukarela dengan niat mulia mempertahankan kemerdekaan. Begitulah TGP juga, awalnya merupakan sekumpulan pelajar teknik yang dibekali keterampilan militer dan turut berjuang dalam garis komando yang jelas. Ini akan membedakannya dengan laskar – laskar.

1 Oktober 1945,
Kesatuan ini lahir di kota Surabaya oleh 20 orang siswa STN / SMTT sebagai pelopor yang menamakan diri Tentara Keamanan Rakjat (TKR) Tehnik. Guru mereka yaitu Hasanudin menjadi Komandannya. Sebagai “tes awal” mereka menyerbu tangsi militer Jepang Don Bosco Jepang lalu menjadikannya markas.

2 Oktober 1945,
Jepang menyerah, lalu senjata – senjata yang berlimpah oleh karena ada satu brigade Angkatan Darat Jepang dan satu armada Angkatan Laut Jepang yang meng “hibah” kan persenjataan tempurnya maka senjata – senjata ini seperti dibagikan gratis kepada banyak pemuda dan rakyat Surabaya. Termasuk disini pemuda – pemuda pelajar mulai dari SMP, SMT (Sekolah Menengah Tehnik), ST dan SMTT. Maka mereka melebur menjadi satu lalu membagi diri dalam empat kelompok besar yang mereka sebut “staf”. Keempat staf itu adalah :
1. Staf I, dari SMT Darmo, Surabaya, pimpinan Isman
2. Staf II, dari SMTT dan ST, pimpinan Sunarto
3. Staf III, dari SMP Praban dan Ketabang, Surabaya
4. Staf IV, dari kelompok pelajar yang bermarkas di Heeren Straat, Surabaya (Jl Rajawali, saat ini)

25 Oktober 1945,
Oleh Mayjen Sungkono dibentuk BKR maka kelompok pelajar ini berubah menjadi BKR pelajar. Mereka sempat turut berjuang di pertempuran Surabaya pada tanggal 28 oktober dan 10 Nopember 1945. Seperti pejuang yang lain mereka terdesak mulai dari Gunungsari, Sepanjang lalu Karangpilang, Surabaya. Disini Komandan TKR Tehnik, Hasanudin, gugur oleh ledakan peledaknya sendiri. Setelah dari Karapilang mereka mengundurkan diri melalui Krian lalu berkonsolidasi di Pabrik Gula Cukir, Jombang.

PETA JAWA PASCA GENJATAN SENJATA 14 Oktober 1946

Dengan adanya genjatan senjata tanggal 14 Oktober 1946 maka para pelajar mulai kembali ke tugas belajar masing – masing dengan menumpang sekolah di tempat pengunduran diri.

Kelahiran Tentara Genie Pelajar

Selanjutnya, Staff II memisahkan diri dari induk menjadi TKR Pelajar Dinas Genie Pertahanan Surabaya. Kesatuan pelajar ini berpindah pindah sekolahnya, tercatat beberapa sekolah yang pernah dipakai, yaitu :
1. Sekolah di Lawang dan diasramakan di Jl. Sumberwaras, Lawang.
2. Sekolah Katolik Cor Jesu, Malang
3. SMP Kristen, Jl Semeru 42, Malang. Asramanya di Jl Ringgit.

Disekolah terakhir dibentuklah Kesatuan Tentara Genie Pelajar (TGP), pimpinan Sunarto, tanggal 2 Februari 1947. Semboyan mereka yang terkenal yaitu “Berjuang Sambil Belajar”. Latihan dasar kemiliteran dilatih oleh Sekolah Kadet Angkatan Laut, Malang.
Terbentuklah satu Batalyon TGP yang dibagi menjadi empat kompi :
1. Kompi I, daerah Malang, Blitar dan Pare
2. Kompi II, daerah Madiun, Bojonegoro dan Pati
3. Kompi III, daerah Solo
4. Kompi IV, daerah Yogyakarta

Beberapa aksi yang dilakukan Tentara Genie Pelajar, yaitu :

21 Juli 1947
Bertepatan dengan Agresi Militer Belanda I. TGP wilayah Malang melakukan tugas berupa pertahanan Jalan Pandaan, Lawang, persiapan bumi hangus kota Malang dan lapangan terbang Bugis, persiapan pemindahan markas darurat ke sebelah barat Kali Kepanjen.

23 Juli 1947
Markas TGP dipindahkan ke Sumberpucung. Pos komando dibagi dua yaitu posko garis depan di Jl Ringgit, Malang dan Posko utama di Bululawang.

24 Juli 1947
Penghancuran Jembatan KA Kendalpayak, Jembatan KA Sempal Wadak, Pabrik Gula Krebet dan Percetakan Uang Negara Kendalpayak, disini dapat diungsikan mesin cetak uang dan uang kertas sebanyak 5 gerbong.

26 Juli 1947
Peledakan jembatan – jembatan sebelah timur Kepanjen. Peledakan jembatan Gambirsari, Pasirian. Hari – hari berikutnya RRI Malang, stasiun kota baru, Malang, Lapangan terbang Bugis, gedung KNI, hotel Palaco, kantor karesidenan dan lain – lain.

31 Juli 1947
Kota Malang jatuh ke tangan Belanda. Garis demarkasi berada di Bululawang.

September 1947
Gerakan Wingate (penyusupan) kewilayah Belanda oleh empat regu khusus. Regu Lutfi dan Batalyon Syarif ke daerah Probolinggo. Regu Sisworo dan Batalyon Skertio ke daerah Lumajang. Regu Kasbi dan Batalyon Magenda ke daerah Jember. Regu Chenot Santoso ke daerah Malang Selatan.

PETA GERAKAN MILITER PADA AGRESI MILITER BELANDA I DI JAWA TIMUR

Pembubaran Tentara Genie Pelajar

Seiring dengan “kekalahan” Belanda lewat perundingan di meja Internasional lewat Konferensi Meja Bundar. Maka berakhir pula lah Agresi Militer Belanda, karena itu semua pelajar yang tergabung dalam kesatuan militer dibawah naungan Brigade XVII di bubarkan. Ini dengan pertimbangan bahwa para pelajar harus tetap meneruskan kewajiban pendidikannya.

27 Desember 1949, diadakannlah Apel Besar di Madiun untuk Batalyon Tentara Genie Pelajar yang juga diikuti acara Pemakaman Kembali anggota TGP yang gugur.

Berdasarkan Intruksi KSAD No. 156/KASAD/PUT/1950 para anggota TGP diberi 4 pilihan masa depannya :
1. Tetap menjadi anggota TNI
2. Menjadi Pegawai Negeri Sipil
3. Melanjutkan pendidikan
4. Bekerja dengan pembekalan pengetahuan praktis

Anggota yang menjadi anggota TNI di reorganisasi ke Corps Zeni AD (ZIAD), Peralatan AD (PALAD), Dinas Teknik Tentara, Kavaleri AD dan Perhubungan AD (HUBAD)

Rerasionalisasi pangkat mereka di TNI adalah sebagai berikut :
Yang belum lulus pendidikan tingkat atas diberi pangkat Sersan dan Sersan Mayor
Yang lulus pendidikan tingkat atas diberi pangkat Letnan Muda
Komandan Peleton diberi pangkat Letnan Dua
Komandan Kompi diberi pangkat Letnan Satu
Komandan Batalyon diberi pangkat Kapten

Beberapa mantan anggota TGP yang berkarier di TNI :
Mayjen Purn. Soenarto
Brigjen Purn. R Hartawan
Marsekal Madya Purn. Aried Riadi
Mayjen Purn. Wing Wiryawan
Letjen Purn. Bambang Triantoro

MARS TGP

Sumber : Buku Agresi Militer Belanda, Pierre Heijboer

Categories: Pendidikan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: