Home > Nasional > Kompetisi PSSI, Serius Apa Guyon?

Kompetisi PSSI, Serius Apa Guyon?

Kompetisi Liga Sepak Bola Indonesia mungkin akan tercatat sebagai yang terunik di dunia. Bukan karena memiliki daya tarik luar biasa dengan kreativitas tinggi, tapi justru karena tidak jelas juntrungannya.

PSSI sebagai induk olah raga balbalan negeri ini bak terdampar di tengah lautan tanpa memiliki penunjuk arah yang jelas. Karena itu, kapal bergerak begitu saja tanpa tujuan sehingga nakhoda hanya berharap tiba di bandar oleh keajaiban alam.

Bukan antipati atas kinerja para pemikir di PSSI. Kita hanya mencoba untuk membandingkan dengan kompetisi di negeri yang sudah lebih dulu maju. Bahkan, membandingkan dengan kompetisi lokal yang sudah berjalan sebelumnya membuat kening berkerut.

Para ahli manajemen dunia menganjurkan perusahaan raksasa untuk melakukan perubahan. Berubah itu penting karena memiliki makna menuju perbaikan dibanding pencapaian sebelumnya. Namun, perubahan itu tidak serampangan, harus memiliki orientasi tepat dan implementatif.

Kompetisi yang digulir para pengurus lama PSSI di bawah BLI (Badan Liga Indonesia) memang belum ideal. Masih sangat banyak kelemahan terjadi di mana-mana. Walau demikian, kompetisi berjalan dan berakhir sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Bagaimana kompetisi Indonesia 2011-12? Gerbong yang diusung Djohar Arifin Husin dengan menempatkan Sihar Sitorus sebagai Ketua Komite Kompetisi menghasilkan keputusan yang lebih banyak menuai kritik ketimbang dukungan.

Berawal dari niat membagi kompetisi menjadi dua wilayah karena alasan luasnya bumi negeri ini. Lantas, ide itu dicoret sendiri dengan mengembalikan kompetisi pada konsep lama. Mendadak, kompetisi diumumkan dengan penambahan kontestan menjadi 24 klub dari sebelumnya 18 klub.

Dengan kontestan 18 tim saja dianggap sangat melelahkan pemain, terutama karena luasnya wilayah Indonesia. Seharusnya ini menjadi dasar pertimbangan pokokmengambil kebijakan. Nyatanya, keputusan mengejutkan karena justru menambah peserta.

Jelas, konsekuensi dari penambahan kontestan adalah pembengkakan biaya dan jadwal pertandingan teramat rumit. Anehnya, PSSI melalui pelaksana kompetisi, PT Liga Prima, tampil dengan aturan baru, mengeluarkan budgeting cap yang membatasi setiap klub hanya boleh mengeluarkan dana sebesar 15 miliar rupiah satu musim.

Aneh bin ajaib. Jumlah pertandingan bertambah sekitar 25 persen, tapi biaya ditekan ke angka minimal. Niat baik boleh jadi dicetuskan PT Liga Prima, namun tidak masuk akal bagi pelaksana lapangan. Katanya liga profesional, tapi pendekatannya justru terkesan menggurui.

***

Memulai sesuatu yang baru sejatinya belajar dari pengalaman. Tidak mesti terlibat langsung di kompetisi yang sudah berjalan baik, tapi dapat menganalisis metode pelaksanaan melalui pengamatan dan penelitian secara mendalam.

Menurut saya, tidak perlu malu mengadopsi konsep yang sudah berjalan, lalu menyesuaikan dengan kondisi setempat. Apa ruginya bila kita melihat apa yang ada di kompetisi Eropa yang menjalankan kompetisi bukan lagi sekadar pertandingan sepak bola, tapi sudah berkembang sebagai industri.

Ambil contoh Inggris, Spanyol, Italia, dan Prancis, yang membatasi peserta kompetisi kelas satu dengan 20 klub. Ada lagi Jerman dan Belanda, yang hanya memainkan 18 tim di tingkat kompetisi utama.

Membatasi jumlah peserta bukan membatasi kesempatan pemain untuk uji kemampuan. Justru langkah ini ditempuh guna memberi kesempatan agar pemain tampil lebih segar. Apalagi pemain masih dituntut untuk tampil membela tim nasional atau bermain di kompetisi tambahan.

Penerapan promosi dan degradasi bagi divisi di bawahnya juga menjadi daya tarik dan menumbuhkan persaingan sehat. Jika setiap klub dengan mudah meraih tiket ke liga utama, maka pertandingan malah kehilangan gereget.

Secara terjadwal, kompetisi di Eropa dimulai Agustus dan berakhir Mei di tahun berikutnya. Jadwal ini tertata rapi dan hanya dapat terpotong oleh kondisi force majeure, situasi yang tak dapat diatasi atau karena faktor alam.

Dengan jumlah 20 kontestan, maka setiap klub bertanding 38 kali dengan 19 kandang dan 19 tandang. Total pertandingan semusim menjadi 380 kali. Perjalanan mengikuti laga tandang hampir tidak masalah karena wilayah yang tak terlalu luas dan didukung transportasi udara maupun darat sudah sangat baik.

Pengaturan jadwal yang sangat rapi memungkinkan klub dapat mengikuti pertandingan lain. Di Inggris, misalnya, di samping kompetisi Barclays Premier League, masih ada FA Cup, Piala Liga, maupun Liga Champion, Liga Europa dan tim nasional.

Bagaimana rencana Liga Pro 1 Indonesia yang akan kick-off mulai 15 Oktober nanti? Sulit dibayangkan kelak berjalan seperti apa. Kompetisi Inggris atau Spanyol hanya bergulir 38 minggu atau 9 bulan.

Indonesia nan luas dengan fasilitas transportasi yang belum sempurna akan memutar 552 pertandingan semusim. Artinya, kompetisi akan berlangsung 46 pekan. Jika tiap minggu bertanding tanpa jeda, maka kompetisi berakhir 11 bulan.

Tidak untuk mencari kelemahan, tapi seharusnya menjadi pertimbangan serius. Lucu dong ada kompetisi berjalan setahun lebih. Coba kalkulasi dengan kemungkinan ada jeda karena bulan puasa, akibat cuaca, akibat pemilu atau pilkada. Tambahkan juga kemungkinan tertunda karena adanya pelatnas menjelang Kualifikasi Piala Dunia, Kualifikasi Olimpiade, SEA Games, Asian Games, Piala Asia dan Piala AFF.

Waduh…, sebenarnya kompetisi sepak bola kita ini serius apa guyon sih?

Dikutip dari Rubrik Catatan Ringan Tabloid BOLA

Categories: Nasional
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: